Latar Belakang IDRIP

Latar Belakang

Indonesia memiliki potensi besar untuk mengalami bencana karena dihadapkan pada berbagai macam kondisi alam dalam bentangan yang luas dengan keragaman kondisi geografis. Pada saat yang sama, Indonesia adalah salah satu negara paling rawan bencana di dunia dan terpapar berbagai ancaman bencana alam yang dapat menghambat hasil-hasil pembangunan, yang memengaruhi penduduk dan perekonomiannya. Bencana alam yang dialami Indonesia pada tahun 2018 menyebabkan korban jiwa yang paling tinggi dalam lebih dari satu dekade, terutama sebagai akibat dari tiga peristiwa besar bencana.

Melalui Dukungan Pendanaan Bank Dunia, Pemerintah Indonesia mengembangkan Proyek Prakarsa Ketangguhan Bencana Indonesia (Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project, IDRIP, P170874). akan membantu memulihkan kemampuan pemantauan bahaya yang rusak dan peralatan peringatan dini serta meningkatkan kesiapsiagaan pemerintah pusat dan pemerintah daerah terpilih, termasuk di daerah-daerah yang terkena dampak bencana tahun 2018, untuk mengantisipasi ancaman bencana alam di masa depan. IDRIP akan membiayai investasi penting dan prioritas peningkatan kapasitas untuk platform MHEWS dan sistem manajemen darurat lokal, untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi peristiwa bencana di masa mendatang, terutama bahaya geofisika. Proyek ini akan membantu BNPB dan mitra kelembagaannya untuk menyempurnakan rancangan teknis platform MHEWS sebagai persiapan untuk investasi lebih lanjut.

Arahan Presiden tentang manajemen bencana yang diumumkan pada Rapat Koordinasi Nasional untuk Mitigasi Bencana pada Februari 2019 yang menekankan perencanaan dan desain informasi risiko, peningkatan kesadaran dan edukasi bencana, dan sistem peringatan dini yang terintegrasi. Selain itu, proyek ini mendukung rencana induk untuk pembangunan Sisperdimana terintegrasi, yang dikoordinasikan oleh BNPB dengan kementerian/lembaga terkait yang bertanggung jawab untuk penyampaian pengetahuan risiko, pemantauan dan peringatan, penyebaran dan komunikasi, dan kegiatan tanggap darurat. Presiden menginggatkan mengenai manajemen bencana bermuara kepada peningkatan ketangguhan di tingkat yang paling kecil yakni keluarga. Untuk itu, setiap komponen kegiatan IDRIP diharapkan dapat mendukung akselerasi dan pengarusutamaan program Keluarga Tangguh Bencana (Katana) dengan indikator-indikator capaian yang jelas dan terukur agar keseluruhan program dapat meningkatkan ketangguhan masyarakat secara umum.